Siang saat
mentari sedang terik selepas shalat jum’at , di kamar kost putri bersama
seorang teman, aku menikmati makan siang,
“Wuih… laper banget dech”. ucapku.
“Pastilah, secara energy sarapan kita
tadi udah keserap buat ngebahas kimia fisik”. ucap Winda.
“So”. ucap kami bersamaan sambil saling
menatap.
Kontan saja
kami berdua makan seperti orang yang sudah dua hari tak melihat putihnya nasi,
kebayangkan. Saat asik menikmati makanan, tak lupa jua kami pun asik bercerita,
sebagai bumbu pelengkapnya gitu.
Kali ini
aku bercerita soal ke BTan ku dengan ikan bernama Bandeng. Gini ni ceritanya.
Waktu itu
aku baru pulang sekolah saat itu aku baru kelas 2 SMA, sampai didepan pintu
seraya mengucap salam aku mulai mencium sesuatu yang membuat deru music perutku
semakin cepat ritmenya, saking sedap baunya, sekarang malah jadi musik rock
dech. Aku tau tentunya aroma ini berasal dari dapur kami, masa dari dapur
tetangga sich.
Tanpa ba bi
bu… langsung aku melesat ke dapur. Kulihat ibu sedang menyiapkan makan siang.
Aku pun langsung bertengger di meja makan. Ibu berjalan kearah meja dengan
membawa semangkuk besar asam manis entah ikan apa itu, karena jujur aku tak
terlalu tau banyak nama ikan terlebih saat
sudah menjadi hidangan yang menggoyangkan lidah.
“ Rere, ganti dulu seragam mu itu baru
makan siang”. Tegur ibu
“ Iya sana ganti”. Ucap ayah jua yang
baru datang
“entar aja dech, Rere laper berat ni”.
Bantahku
Tiba-tiba
sebuah jitakan mendarat di kepala ku, siapa lagi kalo bukan Ishan, eh maksud ku
Kak Ishan.
“Mending kamu cuma laper, lha aku dari
tadi ngurusin kerjaan”. Ucapnya sambil menarik kursi dan duduk diseberangku.
Aku hanya
cemberut tanpa komentar, karna percuma aku menanggapi dia, tetap saja aku yang
kecil ini tertindas. Ceile bahasanya.
“ya sudah kalo kamu sudah laper berat,
ayo kita mulai makan siangnya”. Potong ibu yang mulai mengerti raut wajahku.
Di mulai
dari ayah yang mengambil makanan, dan tetap saja aku jadi yang trakhir. Nasib
jadi bungsu.Kini piring dihadapanku sudah penuh
terisi dengan nasi dan para sahabatnya yaitu sayur mayur dan lauk pauk. Saking lapernya aku mulai mengunyah. Kunyahan
pertama baik-baik saja, namun selanjutnya ada yang menyangkut tapi tetap ku
paksa untuk menelan makanan dimulutku. Kubolak balik ikan yang tanpa nama ini,
kucabik-cabik wuih duri bertebaran disekujur tubuh ikan ini, sontak saja
membuatku geram melihatnya.
“Kenapa Re, makan yang bener, jangan diacak-acak seperti itu makanannya”. Ucap ibu
“Kenapa Re, makan yang bener, jangan diacak-acak seperti itu makanannya”. Ucap ibu
“Ini ikan apa sih bu, banyak banget
durinya, bikin gerah makannya?”. Tanya ku dengan nada sedikit kesal.
“ Itu ikan bandeng, gitu aja gak tau !
udah makan aja gak usah pake protes”. ucap kak Ishan.
Kesalku
semakin bertambah, karena semakin kupilah daging yang tidak ada durinya itu
artinya aku semakin lelah, kulihat ayah sudah hampir menyelesaikan makannya ibu
juga, kak Ishan juga. Aku pun menyerah, malas sudah aku menyentuh makanan ini.
Nah.. sejak
saat itu Win, aku gak pernah mau makan Bandeng, kecuali yang dipresto, karena
semua tulang dan durinya sudah jadi lunak.
“Hahha.. kesian banget dech kamu Re,
pasti dongkol dech sama tu ikan”. Sambil melanjutkan mengunyah makanannya.
“Gak usah ditanya lagi kalo soal itu
sampai sekarang pun masih sama”. Gerutu ku.
Tak lama setelah aku bercerita,
selesailah acara makan siang ini. Aku pun bergegas bersiap-siap karena 15 menit
lagi jam 1 siang, ada rapat kepanitiaan menyambut mahasiswa baru. Sedang Winda,
langsung melanjutkan bacaan komic Detective Conannya.
“Oya Win, kamu masih belum mau pulang kan??”
“Oya Win, kamu masih belum mau pulang kan??”
“Ntar sore dech Re aku pulangnya,
soalnya Online di kost kamu ini lancar, kalo di kost
lelet githu”
lelet githu”
“Hhaahha, makanya kalo punya kost
jangan dihutan”
“Maksud Lo”
“ Dipikir aja ndiri, kalo gitu aku titip kost ya, mau rapat dulu ni, udah gak keburu assalamu’alaikum” sambil berjalan keluar
“Maksud Lo”
“ Dipikir aja ndiri, kalo gitu aku titip kost ya, mau rapat dulu ni, udah gak keburu assalamu’alaikum” sambil berjalan keluar
“wa’alaikumsalam, Siip.. hati-hati ya”
Satu jam
setengah rasanya kami berdebat menyampaikan argument saat rapat berlangsung.
Tapi gak pake gontok-gontokan kok,tetep tenang pastinya.
Pukul 14.30
rapat selesai, aku pun langsung kembali ke kost untuk segera menyelesaikan
tugas-tugas kampus. Sampai dikost kulihat Winda masih asik dengan laptopnya.
“Udah shalat Ashar Win?”. Tanya ku.
“Udah shalat Ashar Win?”. Tanya ku.
“Belom”.
“Ya udah jamaah aja yuk”.
Kurang
lebih 15 menit kami melaksanakan shalat ashar, hilang sudah ketegangan dari
syaraf-syaraf otak ku. Sekarang lebih rileks untuk mengerjakan tugas yang
menggunung. Kami berdua bekerja dalam diam dan hanya sesekali bersauara.
Tak terasa
sudah jam 5 sore, kucoba untuk meregangkan badan , terdengan bunyi “krak” dari
tulang-tulangku, yup saatnya membersihkan kost dan bersih diri tentunya.
“Wah, gak kerasa ya udah jam 5 sore,
aku pulang dulu dech”. Ucap Winda.
“Ya udah pulang sono, hhee becanda”. Sambil
nyengir kuda.
“Mm… tapi boleh gak aku nginep malam
ini, coz signal di kost ku…”. Dengan mimik wajah memelas.
“Lelet kan, ya boleh lah, asal ada
ongkos inap aja”. Masih dengan menjahilinya.
“Hhuu… Ok aku pulang ya”. Sambil
berlalu kepintu.
“ carefull ya”.
Mulai
dengan mencuci piring, dan menyapu lantai, setelah selesai aku bergegas
membersihkan diri karena sebentar lagi masuk waktu maghrib.
selesai shalat maghrib tak lupa ku tengadahkan tangan memohon ampun dengan segenap kelemahan ini. seperti biasa tilawah Qur’an, suatu ketenangan saat bibir ini melantunkan ayat-ayat-Nya. Membasuh penat selama seharian beraktifitas. Tenang dan damai yang kurasa kini, setelah selesai tilawah seperti biasa sembari menunggu shalat isyak, kebiasan ku adalah membaca buku-buku diluar buku akademis,, teringat kata salah satu dosen ku kita jua perlu mengkaji tentang Islam. Karena menuntut ilmu agama adalah juga wajib. Saat asik membaca ada suara salam dan ketukan lembut dibalik pintu. Dan itu pasti Winda karena sudah kenal aku dengan suaranya yang sedikit renyah itu. Ku jawab salam sambil kubuka pintu.
selesai shalat maghrib tak lupa ku tengadahkan tangan memohon ampun dengan segenap kelemahan ini. seperti biasa tilawah Qur’an, suatu ketenangan saat bibir ini melantunkan ayat-ayat-Nya. Membasuh penat selama seharian beraktifitas. Tenang dan damai yang kurasa kini, setelah selesai tilawah seperti biasa sembari menunggu shalat isyak, kebiasan ku adalah membaca buku-buku diluar buku akademis,, teringat kata salah satu dosen ku kita jua perlu mengkaji tentang Islam. Karena menuntut ilmu agama adalah juga wajib. Saat asik membaca ada suara salam dan ketukan lembut dibalik pintu. Dan itu pasti Winda karena sudah kenal aku dengan suaranya yang sedikit renyah itu. Ku jawab salam sambil kubuka pintu.
“nich aku
bawa sesuatu, buat makan malam” ucap Winda sembari ia meletakkan
barang-barangnya dan membuka bungkusannya.
Akhirnya
kuletakkan buku dan menaggalkan mukena yang kukenakan. Kuambil piring gelas dan
sendok, lalu kami mulai makan malam.
“Ni, cobain
dech ikan yang kubeli diwarung bule’ depan thu”. Sambil menunjuk ikan
diatas piring.
diatas piring.
“Ou.. kamu
belanja di tempat bule’ ya? Sambil kucomot ikan dipiring itu.
“Iya, tadi
sambil cerita-cerita ama bule’nya, tapi aku gak tau nama ikannya” sambil terus
makan.
makan.
Lamat-lamat
kupandangi ikan yang sudah pindah ditangan ku ini,,, dan OO.. mata ku membulat.
Sambil nyengir lagi aku membatin bahwa sesungguhnya aku sedang berjodoh dengan
ikan bandeng.
Aku masih
saja tersenyum dan teringat sebuah buku tentang dahsyatnya berpikir positif dan
mensyukuri nikmat yang ada. Dengan tenang aku melanjutkan makan, dan tidak ada
yang menggangu dari ikan bandeng ini. Kini aku mengerti bahwa, apa yang kurasa
dulu adalah karena aku kurang bersyukur dengan nikmat yang diberikan oleh
Allah.
Ada yang
menggenang di pelupuk mataku. Sambil tersenyum kukatakan terima kasih pada
Winda.
Winda masih
dengan wajah bingung, karena sikapku.
Palangka
Raya , 22 Juni 2012
13.21
hahaha.... jd pengennn mengarsip setiap kejadian lucu yang telah di jalani,,,
BalasHapuspasti lucu juga yaakkk,,,jika nanti di baca"
karna kenangan yg bentuk tulisan gk akan hilang "kecuali di delete":D beda hal'a jika hanya kenangan dlam bentuk ingatan,,, "bisa lupe"
btw,,,cerita'a bagus,,,,
tp.....hnya pengen menanyakn saja winda itu siapa ya?????????????
hahahhaahaaa :D
ayo menulis...
Hapuswah baru pemula ni.. makasi dueh lw dibilang bagus ceritanya..
soal siapa itu Winda,,
rahasia Penulislah.. :)