Aku Ingin Menjadi Terang Dalam Gelap Namun Tak Menyilaukan

Rabu, 11 Juli 2012

Ini kisah Aku dan Si Bandeng

Siang saat mentari sedang terik selepas shalat jum’at , di kamar kost putri bersama seorang teman, aku menikmati makan siang,
“Wuih… laper banget dech”. ucapku.
“Pastilah, secara energy sarapan kita tadi udah keserap buat ngebahas kimia fisik”. ucap Winda.
“So”. ucap kami bersamaan sambil saling menatap.
Kontan saja kami berdua makan seperti orang yang sudah dua hari tak melihat putihnya nasi, kebayangkan. Saat asik menikmati makanan, tak lupa jua kami pun asik bercerita, sebagai bumbu pelengkapnya gitu.
Kali ini aku bercerita soal ke BTan ku dengan ikan bernama Bandeng. Gini ni ceritanya.
Waktu itu aku baru pulang sekolah saat itu aku baru kelas 2 SMA, sampai didepan pintu seraya mengucap salam aku mulai mencium sesuatu yang membuat deru music perutku semakin cepat ritmenya, saking sedap baunya, sekarang malah jadi musik rock dech. Aku tau tentunya aroma ini berasal dari dapur kami, masa dari dapur tetangga sich.
Tanpa ba bi bu… langsung aku melesat ke dapur. Kulihat ibu sedang menyiapkan makan siang. Aku pun langsung bertengger di meja makan. Ibu berjalan kearah meja dengan membawa semangkuk besar asam manis entah ikan apa itu, karena jujur aku tak terlalu tau banyak nama ikan terlebih saat  sudah menjadi hidangan yang menggoyangkan lidah.
“ Rere, ganti dulu seragam mu itu baru makan siang”. Tegur ibu
“ Iya sana ganti”. Ucap ayah jua yang baru datang
“entar aja dech, Rere laper berat ni”. Bantahku
Tiba-tiba sebuah jitakan mendarat di kepala ku, siapa lagi kalo bukan Ishan, eh maksud ku Kak Ishan.
“Mending kamu cuma laper, lha aku dari tadi ngurusin kerjaan”. Ucapnya sambil menarik kursi dan duduk diseberangku.
Aku hanya cemberut tanpa komentar, karna percuma aku menanggapi dia, tetap saja aku yang kecil ini tertindas. Ceile bahasanya.
“ya sudah kalo kamu sudah laper berat, ayo kita mulai makan siangnya”. Potong ibu  yang mulai mengerti raut wajahku.
Di mulai dari ayah yang mengambil makanan, dan tetap saja aku jadi yang trakhir. Nasib jadi bungsu.Kini piring dihadapanku sudah penuh terisi dengan nasi dan para sahabatnya yaitu sayur mayur dan lauk pauk.  Saking lapernya aku mulai mengunyah. Kunyahan pertama baik-baik saja, namun selanjutnya ada yang menyangkut tapi tetap ku paksa untuk menelan makanan dimulutku. Kubolak balik ikan yang tanpa nama ini, kucabik-cabik wuih duri bertebaran disekujur tubuh ikan ini, sontak saja membuatku geram melihatnya.
    “Kenapa Re, makan yang bener, jangan diacak-acak seperti itu makanannya”. Ucap ibu
“Ini ikan apa sih bu, banyak banget durinya, bikin gerah makannya?”. Tanya ku dengan nada sedikit kesal.
“ Itu ikan bandeng, gitu aja gak tau ! udah makan aja gak usah pake protes”. ucap kak Ishan.
Kesalku semakin bertambah, karena semakin kupilah daging yang tidak ada durinya itu artinya aku semakin lelah, kulihat ayah sudah hampir menyelesaikan makannya ibu juga, kak Ishan juga. Aku pun menyerah, malas sudah aku menyentuh makanan ini.
Nah.. sejak saat itu Win, aku gak pernah mau makan Bandeng, kecuali yang dipresto, karena semua tulang dan durinya sudah jadi lunak.
“Hahha.. kesian banget dech kamu Re, pasti dongkol dech sama tu ikan”. Sambil melanjutkan mengunyah makanannya.
“Gak usah ditanya lagi kalo soal itu sampai sekarang pun masih sama”. Gerutu ku.
Tak lama setelah aku bercerita, selesailah acara makan siang ini. Aku pun bergegas bersiap-siap karena 15 menit lagi jam 1 siang, ada rapat kepanitiaan menyambut mahasiswa baru. Sedang Winda, langsung melanjutkan bacaan komic Detective Conannya.
   “Oya Win, kamu masih belum mau pulang kan??”
   “Ntar sore dech Re aku pulangnya, soalnya Online di kost kamu ini lancar, kalo di kost  
    lelet githu”
   “Hhaahha, makanya kalo punya kost jangan dihutan”
   “Maksud Lo”
   “ Dipikir aja ndiri, kalo gitu aku titip kost ya, mau rapat dulu ni, udah gak keburu assalamu’alaikum” sambil berjalan keluar
   “wa’alaikumsalam, Siip.. hati-hati ya”
Satu jam setengah rasanya kami berdebat menyampaikan argument saat rapat berlangsung. Tapi gak pake gontok-gontokan kok,tetep tenang pastinya.
Pukul 14.30 rapat selesai, aku pun langsung kembali ke kost untuk segera menyelesaikan tugas-tugas kampus. Sampai dikost kulihat Winda masih asik dengan laptopnya.
    “Udah shalat Ashar Win?”. Tanya ku.
“Belom”.
“Ya udah jamaah aja yuk”.
Kurang lebih 15 menit kami melaksanakan shalat ashar, hilang sudah ketegangan dari syaraf-syaraf otak ku. Sekarang lebih rileks untuk mengerjakan tugas yang menggunung. Kami berdua bekerja dalam diam dan hanya sesekali bersauara.
Tak terasa sudah jam 5 sore, kucoba untuk meregangkan badan , terdengan bunyi “krak” dari tulang-tulangku, yup saatnya membersihkan kost dan bersih diri tentunya.
“Wah, gak kerasa ya udah jam 5 sore, aku pulang dulu dech”. Ucap Winda.
“Ya udah pulang sono, hhee becanda”. Sambil nyengir kuda.
“Mm… tapi boleh gak aku nginep malam ini, coz signal di kost ku…”. Dengan mimik wajah memelas.
“Lelet kan, ya boleh lah, asal ada ongkos inap aja”. Masih dengan menjahilinya.
“Hhuu… Ok aku pulang ya”. Sambil berlalu kepintu.
“ carefull ya”.
Mulai dengan mencuci piring, dan menyapu lantai, setelah selesai aku bergegas membersihkan diri karena sebentar lagi masuk waktu maghrib. 
selesai shalat maghrib tak lupa ku tengadahkan tangan memohon ampun dengan segenap kelemahan ini. seperti biasa tilawah Qur’an, suatu ketenangan saat bibir ini melantunkan ayat-ayat-Nya. Membasuh penat selama seharian beraktifitas. Tenang dan damai yang kurasa kini, setelah selesai tilawah seperti biasa sembari menunggu shalat isyak, kebiasan ku adalah membaca buku-buku diluar buku akademis,, teringat kata salah satu dosen ku kita jua perlu mengkaji tentang Islam. Karena menuntut ilmu agama adalah juga wajib. Saat asik membaca ada suara salam dan ketukan lembut dibalik pintu. Dan itu pasti Winda karena sudah kenal aku dengan suaranya yang sedikit renyah itu. Ku jawab salam sambil kubuka pintu.

   “nich aku bawa sesuatu, buat makan malam” ucap Winda sembari ia meletakkan barang-barangnya dan membuka bungkusannya.
Akhirnya kuletakkan buku dan menaggalkan mukena yang kukenakan. Kuambil piring gelas dan sendok, lalu kami mulai makan malam.
   “Ni, cobain dech ikan yang kubeli diwarung bule’ depan thu”. Sambil menunjuk ikan
    diatas piring.
  “Ou.. kamu belanja di tempat bule’ ya? Sambil kucomot ikan dipiring itu.
  “Iya, tadi sambil cerita-cerita ama bule’nya, tapi aku gak tau nama ikannya” sambil terus
   makan.
Lamat-lamat kupandangi ikan yang sudah pindah ditangan ku ini,,, dan OO.. mata ku membulat. Sambil nyengir lagi aku membatin bahwa sesungguhnya aku sedang berjodoh dengan ikan bandeng.
Aku masih saja tersenyum dan teringat sebuah buku tentang dahsyatnya berpikir positif dan mensyukuri nikmat yang ada. Dengan tenang aku melanjutkan makan, dan tidak ada yang menggangu dari ikan bandeng ini. Kini aku mengerti bahwa, apa yang kurasa dulu adalah karena aku kurang bersyukur dengan nikmat yang diberikan oleh Allah.
Ada yang menggenang di pelupuk mataku. Sambil tersenyum kukatakan terima kasih pada Winda.
Winda masih dengan wajah bingung, karena sikapku.


Palangka Raya , 22 Juni 2012
13.21

2 komentar:

  1. hahaha.... jd pengennn mengarsip setiap kejadian lucu yang telah di jalani,,,
    pasti lucu juga yaakkk,,,jika nanti di baca"
    karna kenangan yg bentuk tulisan gk akan hilang "kecuali di delete":D beda hal'a jika hanya kenangan dlam bentuk ingatan,,, "bisa lupe"

    btw,,,cerita'a bagus,,,,
    tp.....hnya pengen menanyakn saja winda itu siapa ya?????????????
    hahahhaahaaa :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. ayo menulis...
      wah baru pemula ni.. makasi dueh lw dibilang bagus ceritanya..

      soal siapa itu Winda,,
      rahasia Penulislah.. :)

      Hapus