Aku Ingin Menjadi Terang Dalam Gelap Namun Tak Menyilaukan

Rabu, 11 Juli 2012

Antara Shubuh dan Koma

Pagi ini dingin menusuk hingga kesumsum tulang, menyapa, menerpa kulitku yang baru saja menyembul dari balik pintu. Kupandangi seluruh cakrawala bumi. Sembari aku menghirup dalam, menikmati kegratisan O2 yang melimpah. Tak banyak orang yang bangun pagi ini. Karena hati-hati yang terpaut oleh diennyalah yang mampu mengalahkan nikmat terlelap. Bagaimana aku dapat berkata seperti itu, seolah aku adalah hakim yang bisa menjudge orang begitu saja.  Tapi ketahuilah bahwa seperti itulah aku dulu, saat seruan-Nya tak terlalu kuindahkan. Aku lebih memilih menyembunyikan tubuh dibalik selimut tebal. Bertahun-tahun aku menjadi manusia seperti itu. Tapi pagi ini aku kembali menjadi manusia yang baru, karena sebuah kejadian satu bulan lalu.
Terang dan gemerlap kota manis ku membaur dalam perjalanan ku. Ya… seperti kebanyakan anak muda yang bingung mengisi kesendiriannya, hari ini tanggal 28 Januari 2009 di malam minggu. Perlahan tanpa kecepatan yang berarti aku menyusuri setiap jalan-jalan tanpa arah dan tujuan , karena sering kali aku seperti ini. Jalan-jalan tak tentu arah sekedar tuk hilangkan penat di jiwa.  Kadang dan sering kali bahkan.
Masih disepanjang perjalanan lampu-lampu bersinar menemani bulan membagi cahaya. Tiba-tiba aku seolah terbang dan tepatnya terpelanting entah berapa meter dari kendaraan yang ku naiki, helm yang ku kenakan entah terlempar kemana, rasanya ada sesuatu yang menabrak dengan kecepatan tinggi dari belakang. Perih disekujur  tubuhku, ada yang mengalir rasanya dari dahi hingga kedagu hangat dan anyir baunya. Lalu… hanya suara-suara tanpa kejelasan mengerumuni ku, namun lamat-lamat tak lagi terdengar dan hanya gelap saja.

Ini kisah Aku dan Si Bandeng

Siang saat mentari sedang terik selepas shalat jum’at , di kamar kost putri bersama seorang teman, aku menikmati makan siang,
“Wuih… laper banget dech”. ucapku.
“Pastilah, secara energy sarapan kita tadi udah keserap buat ngebahas kimia fisik”. ucap Winda.
“So”. ucap kami bersamaan sambil saling menatap.
Kontan saja kami berdua makan seperti orang yang sudah dua hari tak melihat putihnya nasi, kebayangkan. Saat asik menikmati makanan, tak lupa jua kami pun asik bercerita, sebagai bumbu pelengkapnya gitu.
Kali ini aku bercerita soal ke BTan ku dengan ikan bernama Bandeng. Gini ni ceritanya.
Waktu itu aku baru pulang sekolah saat itu aku baru kelas 2 SMA, sampai didepan pintu seraya mengucap salam aku mulai mencium sesuatu yang membuat deru music perutku semakin cepat ritmenya, saking sedap baunya, sekarang malah jadi musik rock dech. Aku tau tentunya aroma ini berasal dari dapur kami, masa dari dapur tetangga sich.
Tanpa ba bi bu… langsung aku melesat ke dapur. Kulihat ibu sedang menyiapkan makan siang. Aku pun langsung bertengger di meja makan. Ibu berjalan kearah meja dengan membawa semangkuk besar asam manis entah ikan apa itu, karena jujur aku tak terlalu tau banyak nama ikan terlebih saat  sudah menjadi hidangan yang menggoyangkan lidah.
“ Rere, ganti dulu seragam mu itu baru makan siang”. Tegur ibu
“ Iya sana ganti”. Ucap ayah jua yang baru datang
“entar aja dech, Rere laper berat ni”. Bantahku
Tiba-tiba sebuah jitakan mendarat di kepala ku, siapa lagi kalo bukan Ishan, eh maksud ku Kak Ishan.
“Mending kamu cuma laper, lha aku dari tadi ngurusin kerjaan”. Ucapnya sambil menarik kursi dan duduk diseberangku.
Aku hanya cemberut tanpa komentar, karna percuma aku menanggapi dia, tetap saja aku yang kecil ini tertindas. Ceile bahasanya.
“ya sudah kalo kamu sudah laper berat, ayo kita mulai makan siangnya”. Potong ibu  yang mulai mengerti raut wajahku.