Pagi ini
dingin menusuk hingga kesumsum tulang, menyapa, menerpa kulitku yang baru saja
menyembul dari balik pintu. Kupandangi seluruh cakrawala bumi. Sembari aku
menghirup dalam, menikmati kegratisan O2 yang melimpah. Tak banyak
orang yang bangun pagi ini. Karena hati-hati yang terpaut oleh diennyalah yang
mampu mengalahkan nikmat terlelap. Bagaimana aku dapat berkata seperti itu,
seolah aku adalah hakim yang bisa menjudge
orang begitu saja. Tapi ketahuilah
bahwa seperti itulah aku dulu, saat seruan-Nya tak terlalu kuindahkan. Aku lebih
memilih menyembunyikan tubuh dibalik selimut tebal. Bertahun-tahun aku menjadi
manusia seperti itu. Tapi pagi ini aku kembali menjadi manusia yang baru,
karena sebuah kejadian satu bulan lalu.
Terang
dan gemerlap kota manis ku membaur dalam perjalanan ku. Ya… seperti kebanyakan
anak muda yang bingung mengisi kesendiriannya, hari ini tanggal 28 Januari 2009
di malam minggu. Perlahan tanpa kecepatan yang berarti aku menyusuri setiap
jalan-jalan tanpa arah dan tujuan , karena sering kali aku seperti ini.
Jalan-jalan tak tentu arah sekedar tuk hilangkan penat di jiwa. Kadang dan sering kali bahkan.
Masih
disepanjang perjalanan lampu-lampu bersinar menemani bulan membagi cahaya.
Tiba-tiba aku seolah terbang dan tepatnya terpelanting entah berapa meter dari
kendaraan yang ku naiki, helm yang ku kenakan entah terlempar kemana, rasanya
ada sesuatu yang menabrak dengan kecepatan tinggi dari belakang. Perih
disekujur tubuhku, ada yang mengalir
rasanya dari dahi hingga kedagu hangat dan anyir baunya. Lalu… hanya
suara-suara tanpa kejelasan mengerumuni ku, namun lamat-lamat tak lagi
terdengar dan hanya gelap saja.