AKU
INGIN SEKALI LAGI, ENGKAU MENGGAMBAR UNTUKKU !
(aku menyebutnya sesi rindu untuk
ayah)
Sore
itu aku duduk di sampingnya melihat dan memperhatikan apa sebenarnya yang ia
perbuat dengan pensil dan buku gambarku. Aku yang saat itu hanya berpikir, dan
dengan tidak sabar ku protes padanya
“ Gambar apa sih itu?”. Tanyaku.
“ Sudah lihat saja”. Ujarnya dengan lembut
Sekali lagi aku menunggu. Agak jenuh
jua aku dibuatnya, tapi taukah kau kawan… Ia memang bukan seorang pelukis. Namun
bagiku ia pelukis terbaik dalam kanvas kehidupanku. Kupandangi sebuah karya
seni dihadapan. Hanya goresan pensil saja. Namun membentuk nuansa yang tentram,
asri dan alami. Sebuah pemandangan yang menyejukkan. Gunung-gunung yang
dibawahnya mengalir sungai kecil serta beberapa rumah penduduk. Sungguh aku
mengaguminya.
Tak ingin aku memolesnya dengan
pensil warna, karena menurutku itu sebuah karya yang natural… hitam putih lebih
murni. Yang kurasa saat memandangi gambar ini adalah adanya ikatan batin dari apa
yang ia goreskan di atas kertas ini. Kurasa ini potret latar kehidupan kecilnya
dulu.