Aku Ingin Menjadi Terang Dalam Gelap Namun Tak Menyilaukan

Rabu, 19 September 2012

Sesi Rindu untuk Ayah Part 1

AKU INGIN SEKALI LAGI, ENGKAU MENGGAMBAR UNTUKKU !

(aku menyebutnya sesi rindu untuk ayah)

            Sore itu aku duduk di sampingnya melihat dan memperhatikan apa sebenarnya yang ia perbuat dengan pensil dan buku gambarku. Aku yang saat itu hanya berpikir, dan dengan tidak sabar ku protes padanya 

     “ Gambar apa sih itu?”. Tanyaku.
     “ Sudah lihat saja”. Ujarnya dengan lembut

            Sekali lagi aku menunggu. Agak jenuh jua aku dibuatnya, tapi taukah kau kawan… Ia memang bukan seorang pelukis. Namun bagiku ia pelukis terbaik dalam kanvas kehidupanku. Kupandangi sebuah karya seni dihadapan. Hanya goresan pensil saja. Namun membentuk nuansa yang tentram, asri dan alami. Sebuah pemandangan yang menyejukkan. Gunung-gunung yang dibawahnya mengalir sungai kecil serta beberapa rumah penduduk. Sungguh aku mengaguminya.

            Tak ingin aku memolesnya dengan pensil warna, karena menurutku itu sebuah karya yang natural… hitam putih lebih murni. Yang kurasa saat memandangi gambar ini adalah adanya ikatan batin dari apa yang ia goreskan di atas kertas ini. Kurasa ini potret latar kehidupan kecilnya dulu.

Rabu, 11 Juli 2012

Antara Shubuh dan Koma

Pagi ini dingin menusuk hingga kesumsum tulang, menyapa, menerpa kulitku yang baru saja menyembul dari balik pintu. Kupandangi seluruh cakrawala bumi. Sembari aku menghirup dalam, menikmati kegratisan O2 yang melimpah. Tak banyak orang yang bangun pagi ini. Karena hati-hati yang terpaut oleh diennyalah yang mampu mengalahkan nikmat terlelap. Bagaimana aku dapat berkata seperti itu, seolah aku adalah hakim yang bisa menjudge orang begitu saja.  Tapi ketahuilah bahwa seperti itulah aku dulu, saat seruan-Nya tak terlalu kuindahkan. Aku lebih memilih menyembunyikan tubuh dibalik selimut tebal. Bertahun-tahun aku menjadi manusia seperti itu. Tapi pagi ini aku kembali menjadi manusia yang baru, karena sebuah kejadian satu bulan lalu.
Terang dan gemerlap kota manis ku membaur dalam perjalanan ku. Ya… seperti kebanyakan anak muda yang bingung mengisi kesendiriannya, hari ini tanggal 28 Januari 2009 di malam minggu. Perlahan tanpa kecepatan yang berarti aku menyusuri setiap jalan-jalan tanpa arah dan tujuan , karena sering kali aku seperti ini. Jalan-jalan tak tentu arah sekedar tuk hilangkan penat di jiwa.  Kadang dan sering kali bahkan.
Masih disepanjang perjalanan lampu-lampu bersinar menemani bulan membagi cahaya. Tiba-tiba aku seolah terbang dan tepatnya terpelanting entah berapa meter dari kendaraan yang ku naiki, helm yang ku kenakan entah terlempar kemana, rasanya ada sesuatu yang menabrak dengan kecepatan tinggi dari belakang. Perih disekujur  tubuhku, ada yang mengalir rasanya dari dahi hingga kedagu hangat dan anyir baunya. Lalu… hanya suara-suara tanpa kejelasan mengerumuni ku, namun lamat-lamat tak lagi terdengar dan hanya gelap saja.

Ini kisah Aku dan Si Bandeng

Siang saat mentari sedang terik selepas shalat jum’at , di kamar kost putri bersama seorang teman, aku menikmati makan siang,
“Wuih… laper banget dech”. ucapku.
“Pastilah, secara energy sarapan kita tadi udah keserap buat ngebahas kimia fisik”. ucap Winda.
“So”. ucap kami bersamaan sambil saling menatap.
Kontan saja kami berdua makan seperti orang yang sudah dua hari tak melihat putihnya nasi, kebayangkan. Saat asik menikmati makanan, tak lupa jua kami pun asik bercerita, sebagai bumbu pelengkapnya gitu.
Kali ini aku bercerita soal ke BTan ku dengan ikan bernama Bandeng. Gini ni ceritanya.
Waktu itu aku baru pulang sekolah saat itu aku baru kelas 2 SMA, sampai didepan pintu seraya mengucap salam aku mulai mencium sesuatu yang membuat deru music perutku semakin cepat ritmenya, saking sedap baunya, sekarang malah jadi musik rock dech. Aku tau tentunya aroma ini berasal dari dapur kami, masa dari dapur tetangga sich.
Tanpa ba bi bu… langsung aku melesat ke dapur. Kulihat ibu sedang menyiapkan makan siang. Aku pun langsung bertengger di meja makan. Ibu berjalan kearah meja dengan membawa semangkuk besar asam manis entah ikan apa itu, karena jujur aku tak terlalu tau banyak nama ikan terlebih saat  sudah menjadi hidangan yang menggoyangkan lidah.
“ Rere, ganti dulu seragam mu itu baru makan siang”. Tegur ibu
“ Iya sana ganti”. Ucap ayah jua yang baru datang
“entar aja dech, Rere laper berat ni”. Bantahku
Tiba-tiba sebuah jitakan mendarat di kepala ku, siapa lagi kalo bukan Ishan, eh maksud ku Kak Ishan.
“Mending kamu cuma laper, lha aku dari tadi ngurusin kerjaan”. Ucapnya sambil menarik kursi dan duduk diseberangku.
Aku hanya cemberut tanpa komentar, karna percuma aku menanggapi dia, tetap saja aku yang kecil ini tertindas. Ceile bahasanya.
“ya sudah kalo kamu sudah laper berat, ayo kita mulai makan siangnya”. Potong ibu  yang mulai mengerti raut wajahku.

Minggu, 03 Juni 2012

DILEMA

Seharian itu aku menjadi dilema

Dilema akan masa depan..
Kembali ku berfikir
Tak ada jawaban…!!
Kosong makin pening saja akhirnya

Ku coba sharing…
Namun belum jua terjawab gundah ini…

Hingga sepertiga malam menghampiriku…
Nada alarm membelai seolah mengetuk mimpi malamku…
Membangunkan ku…
Sejenak aku masih diam terpaku….

Kumulai Istikharah  malam ini…
Berharap Dia tunjukkan yang terbaik bagiku, agamaku serta yang terbaik dunia dan akhirat…

Sunyi malam itu membuatku menikmati setiap ucap doa ku pada-Nya..
Puas sudah ku berkeluh kesah..
Mata ku terpejam berharap saat ku kembali terjaga
Hatiku telah mantap pada satu pilihan…

IN THIS MOMENT

Semilir angin menyapa tulang-tulangku,
tak jua ingin tertinggal nyamuk-nyamuk liar meramaikan malam ini..
Sesekali kulihat bulan masih saja tersenyum.. Menyapa setiap mata yang masih terjaga..

Bintang gemintang..
Masih setia dengan bulan melukis atmosfer bumi..

Di atas karpet..
Mencoba tuk rehat kan diri..
Namun seolah.. Jiwa tak mau lewatkan momen ini...

Terjaga dan terus terjaga hingga mata lelah dengan sendirinya..

Rabu, 30 Mei 2012

Untukmu Ibunda Tercinta


19 tahun silam kau berada di atas meja operasi, berjuang untuk kelahiranku...
19 tahun sudah kau mengisi ruang di dalam hatiku, dan tak akan terganti...
Kau berikan perawatan dan pengajaran dengan ketulusan...
Disaat aku kehilangan semangat...
Kau hadir bagai oase di gurun pasir...
Menghilangkan dahaga keputusasaan ku...
Namun seringkali lisan ku menyakiti hatimu...

          Hari ini ingin kuminta maaf mu..
          Atas segala ulah ku, yang seringkali berkilah akan perintah mu...
          Meskipun aku tak lagi dapat merengkuh jasad mu...
Merasakan hangat pelukmu...

Namun tak pernah ku lupa..
Senyum khas mu dengan lesung pipi di sudutnya ... kau istimewa Ibu...
Kutitipkan surat cintaku pada Mu ... ya Rabb..
Sampaikanlah pada ibu.. “happy Mother’s Day” and “ I Always Loving you Mom”...

          Demi bhakti ku... ku persembahkan ibadahku untuk mu...
          Agar terang tempat mu...
         Dan biarlah pusara mu semangati hidupku...


                                                                   With love: Febrin muftia